CerMi Laporan Pelatihan MCI

Sebelum saya melanjutkan menulis laporan mengikuti pelatihan MCI, cobalah terlebih dahulu menyimak kisah ini.

Alkisah, seorang pembuat jam tangan berkata kepada jam yang sedang dibuatnya. “Hai jam, apakah kamu sanggup untuk berdetak paling tidak 31,104,000 kali selama setahun?” “Ha?,” kata jam terperanjat, “Mana sanggup saya?” “Bagaimana kalau 86,400 kali dalam sehari?” “Delapan puluh ribu empat ratus kali? Dengan jarum yang ramping-ramping seperti ini?” jawab jam penuh keraguan.

“Bagaimana kalau 3,600 kali dalam satu jam?” “Dalam satu jam harus berdetak 3,600 kali? Banyak sekali itu” tetap saja jam ragu-ragu dengan kemampuan dirinya. Tukang jam itu dengan penuh kesabaran kemudian bicara kepada si jam. “Kalau begitu, sanggupkah kamu berdetak satu kali setiap detik?” “Naaaa, kalau begitu, aku sanggup!” kata jam dengan penuh antusias.

Maka, setelah selesai dibuat, jam itu berdetak satu kali setiap detik. Tanpa terasa, detik demi detik terus berlalu dan jam itu sungguh luar biasa karena ternyata selama satu tahun penuh dia telah berdetak tanpa henti. Dan itu berarti ia telah berdetak sebanyak 31,104,000 kali.

 Makna apa yang kita dapatkan dari kisah diatas? Banyak mungkin simpulan, persepsi, interprestasi yang terbentuk. Tetapi saya memaknai secara sederhana saja, saya mencoba melihat dari aspek kehidupan sehari-hari. Bayangkan jika kita dihadapkan pada situasi kisah jam yang baru kita baca ini. Pasti kitapun mempunyai jawaban yang sama woooow betapa berat dan impossible lah itu bisa dikerjakan. Begitupula jika kita dihadapkan adanya tuntutan dari institusi agar selalu memberikan yang terbaik (kualitas, kuantitas) tanpa ada arahan, bimbingan bagaimana mungkin kita dapat mewujudkannya!

 Bersyukurlah, sekarang adanya tuntutan untuk memberikan yang terbaikpun akan terasa lebih mudah mewujudkannya. Contohnya kita dituntut untuk dapat membuat soal (UTS-UAS) yang baik dan benar sesuai kaidah bakunya dan kini terasa menjadi lebih mudah dan ringan karena dengan segala bentuk “kesabarannya” sekarang kita sudah dituntun oleh instruktur kita (Pak Gun) untuk mewujudkan sesuatu yang “besar dan benar” menjadi kenyataan dan keniscayaan….niscaya kita mampu membuat soal yang baik dan benar sesuai kaidah bakunya, dengan soal yang sudah menenuhi syarat kaidah baku, tentunya akan menghasilkan jawaban yang akurat juga karena senantiasa akan mengacu pada PB (Pokok Bahasan) dan SPB (Sub PB) setiap mata kuliahnya. Disisi lain mahasiswa (diharapkan) akan memiliki soft skill/hard skill lebih baik lagi karena mereka telah dibekali pemahaman, konsep, nalar untuk dapat menjawab setiap soal yang kita berikan.

 Kisah Sang Jam yang tadinya merasa berat diberikan tugas 31.104.000 kali berdetak dalam setahun, terasa ringan ketika sang pembuat mengatakan OK kalau begitu tidak usah 31.104.000 kali berdetak tapi cukup satu kali saja berdetak dalam sedetik! So…….Siapapun diantara kita tidak akan merasa terbebani dan terpaksa jika kita harus membuat soal baku untuk UTS/UAS satu soal setiap hari, katimbang kita harus “dipaksa” setiap akan menghadapi UTS/UAS membuat 25 atau 30 soal pada saat lonceng alarm deadline mengumpulkan soal berdering dibunyikan oleh Kajur kita…he….he…he. Usai pelatihan ini kita akan mengatakan…..Yeah now only once in a lifetime………imagine guys.

Proses pelatihan sedang berlanjut and of cource be sustainable………OK. Pak Gun, thank you for initiating this training.

Untuk contoh soal baku dan jawabannya dapat dilihat DISINI

Wassalamualaikum Wwb.