Contoh Soal

Pertanyaan:
contoh soal dibawah ini contoh apakah yang termasuk tidak homogen dan tidak logis
ditinjau dari segi materi karena mencari batu akik bukanlah tujuan utama dari kedatangan bangsa portugis di Maluku.

 

Kalau yang contoh dibawah ini
apakah termasuk soal harus berdasarkan kisi-kisi yang diminta?
karena ini diluar konteks materi.
Jawaban: 
Kalau masalah kualitatif seperti ini sebenarnya harus dikembalikan kepada “expert-nya”. Artinya yang benar-benar tahu itu ya ahli bidang studinya/subject matter expert. Bahkan ada istilah “expert adjustment”. Jadi memang secara kaidah ada syarat homogenitas materi dan logis, tetapi kalau si “expert” menganggap itu tidak melanggar, ya apa boleh buat!

Selanjutnya juga, apabila soal ini lolos dari tahap analisis kualitatif, nanti akan dilanjutkan dengan pengambilan data objektif yaitu hasil respons peserta tes yang kita akan peroleh secara kuantitatif atau menggunakn statistik. Nanti, pada tahap ini akan kelihatan kok “homogenitas” dari option/plihan jawaban. Jad walaupun nanti sdh kelihatan homogen bahkan kadang-kadang pilihan jawabannya sdh homogen sekali tetapi tidak logis (sering pembuat soal asal saja membuat pilihan jawaban yang sebenarnya harus berfungsi sebagai pengecoh)  nanti dari hasil analisis (kuantitatif)  akan terlihat mana yang berfungsi atau tidak! Dan kekuatan analisis kuantitatif ini sangat dahsyat – kalau boleh bersifat “mutlak”.

Disinilah seninya membuat soal, artinya dalam membuat pengecoh jangan main tancap “asal buat”, khususnya pada bidang matematika. Sering sekali kalau saya lihat pengecoh yang bersifat angka asal buat/tulis. Jadi seharusnya dalam membuat pengecoh itu yang tepat adalah bagaimana kita seolah-olah berada pada jalan pikiran si peserta tes (bukan pada pikiran kita) dengan kata lain dimana kira-kira si peserta tes akan “kesleo” misalnya pada pemilihan rumus, pemasukan angka (tertukar dengan variabel lainnya), kesalahan hitung yang mungkin logis/lasim terjadi, dll. Nah  seni seperti ini harusnya diperagakan.
Oh iya, sebenarnya tidak semua soal yang kita akan tulis itu merupakan soal yang mungkin bisa ditanya sebagai soal PG lho! Artinya, kalau soal itu tidak mungkin dibuatkan option/pengecoh sebanyak 4 buah (kalau pilihan jawabannya 5), beararti tidak bisa ditanya dalam PG. Jadi kita harus membuat soal (sebagi pokok soal/inti pertanyaan) yang memungkinkan kita bisa membuat pengecohnya yang homogen dan logis. Pengecoh itu harus dibuat sedemikian rupa sehingga bila si peserta tes itu seperti merasa tidak “salah” memilih jawaban di pengecoh padahal yang dipih itu bukan kuncinya! Dan ini bisa dibuat apabila si penulis soal ini bisa “menjiwai” atau menirukan/seolah-olah memiliki jalan pikiran seperti si calon penjawab!

Ini Contoh ya, tetapi di soal matematika/kalkulus! – Soalnya sih sepertinya sangat mudah, tetapi saya yakin tidak/belum tentu ini memang benar-benar mudah!

* Berdasarkan konsep epsilon – delta pada lim(x2 – 4)/(x – 2) untuk x mendekati 2 apabila epsilon = 1/satu juta maka nilai delta adalah  . . .

Bandingkan dengan soal ini
* Berdasarkan konsep epsilon – delta pada lim(3×2 – 12)/(2x – 4) untuk x mendekati 2 apabila epsilon = 1/satu juta maka nilai delta adalah  . . .

Catatan:
(x2 – baca x kuadrat)

Coba! Apakah untuk soal yang pertama bisa dibuatkan pengecohnya? Pasti sulit sekali! Tetapi, pada contoh soal di bawahnya banyak sekali kemungkinan si peserta tes salah hitung, baik secara angka maupun logika! Padahal inti pertanyaannya sama, coba lihat indikatornya – pasti sama! Yang beda kan hanya penampilannya! Jadi secara kaidah tidak ada yang dilanggar
!
Ini contoh yang di kalkulus, yang di lainnya juga sama! Tetapi yang tahu benar2 adalah si “subject matter expert”.

Kemudian, kalau saya boleh berpendapat memang pada kenyataanya, apalagi di level SD, tingkat pengetahuan penulis soalnya sangat minim bahkan mungkin mereka/guru-gurunya masih banyak yang belum tahu cara menulis soal yang standar bahkan mungkin belum tentu mereka adalah “subject matter expert” kan di SD gurunya kebanyakan borongan/berfungsi sebagai “superman” yang dianggap serba tahu (padahal harusnya yang ngajar SD itu harusnya orang yang benar-benar ahli kalau perlu para doktor, karena SD kan dasar atau sebagai inisiasi untuk ke depannya – jadi ya, banyak sekali penyimpangan yang terjadi mulai dari yang tidak sesuai indikator, tidak logis, salah kunci dll. Parahnya lagi, soal yang digunakan yang itu-itu terus padahal sudah tahu kalau soalnya tidak baik/tidak valid – salah/mutunya jelek, tetapi digunakan saja terus menerus soal itu! Kenaa ini bisa terjadi – Faktornya banyak: Mulai dari kemampuan gurunya, pengelamannya, sampai pada tidak adanya/tidak pernah dilakukan  evaluasi terhadap apa2 yang dilakukan! Alasannya ya banyak, mulai dari masalah ekonomi, sampai dengan masalah beban kerja, dll. Kan pernah terjadi, seorang siswa ranking 2 (atau 10 besar di sekolahnya) tetapi tidak lulus EBTANAS – ini kan ajaib. Tetapi ini benar2 pernah terjadi lho, di jakarta lagi! Saya tahu sekali kejadian ini, karena kebetulan orang tua si korban pernah ketemu saya. Memang setelah dievaluasi ternyata penyebabnya bukan single faktpr! Banyak alasan yang bisa dijadikan kemungkinan penyebabnya!
Jadi, kalau kita berbicara meluas, kelihatannya menjadi kemana-mana diskusinya!
Untuk di PTR ini, sebenarnya kita bisa benhi dengan melakukan analisis baik kualitatif maupun kuantitatif, dimualai dari scope kecil saja dulu! Saya kok masih yakin ya masih ada soal yang itu-itu saja dipakai pada setiap ujian, padahal mungkin soal itu tidak baik.
Gimana kalau kita mulai untuk PTR tercinta? Berani?

Bukan Dan Kecuali

#Pertanyaan:

Contoh 1
Yang bukan merupakan pemerintah daerah kecuali

(disini ada dua kata negatif yaitu bukan dan kecuali)

Maksud dari soal diatas sebenarnya mencari jawaban yg sebenarnya merupakan pemerintah daerah. Kata BUKAN pada awal kalimat bertujuan membalik positif menjadi negatif, dan pada akhir kalimat yang telah berubah menjadi negatif dibalik lagi menjadi positif dengan penggunaan kata KECUALI, maka sebenarnya adalah mencari jawaban yg positif, alias yang termasuk
Pemerintahan daerah.

kalau saya boleh sedikit ilmiah pakai rumus matematika
negatif x negatif = positif, hehehe,
contoh
-1 * -2 = 2
(barusan cek pakai kalkulator).

Demikian juga dengan contoh 2 dari bapak.

Kalau saya memaknainya, dilihat dari tujuannya pak

Kalau tujuannya mengetahui kemampuan penguasaan maka soal tersebut jadi tidak tepat, karena bisa membingungkan, jadinya bisa jadi jawabannya salah karena bingung, bukan tidak tahu.

Tapi kalau tujuannya, selain untuk mengukur penguasaan, juga untuk mengukur sebenarnya dia teliti atau tidak, apakah soal tersebut bisa dibenarkan atau tidak ya pak?

Karena terkadang saya menggunakan soal tersebut biar saya tahu, mahasiswa teliti atau tidak dalam menganalisis kalimat.

#Pertanyaan:

Mengapa soal tidak boleh ada pernyataan negatif ganda?

Berarti ini lebih kepada “pokok soal” yang ditanyakan. artinya pada pokok soal jangan sampai terdapat dua kata yang mengandung arti negatif.  hal ini mencegah terjadinya kesalahan penafsiran peserta test terhadap arti pernyataan dimaksud.
Jawaban:
Pasti bingun kan membaca “negatif” ganda. Ini dari sisi dosen, apalagi dari peserta tes pasti lebih bingung lagi dan pasti ditambah panik. Oleh karena itu sangat tidak dianjutkan menggunakan “negatif” ganda! Karena nanti jadi melencenga dari tujuan pengkurannya! Artinya kita harus benar-benar valid dalam mengukur, istilah awamnya yang memang bisa/mampu ya kita harus nilai bisa yang tidak bisa ya memang harus kita nilai tidak bisa! Dengan kata lain, jangan karena bingung terus mahasiswa jadi menebak!

Nah, kalau pa Jun memang mau menguji kemampuan ketelitian/keakuran walau harus memunculkan “negatif ganda” seperti pada soal logika matematika/matematoka diskrit,  sebaikna pada pilihan jawabannya pak! Artinya bukan pada saat akan menjawab/membaca soal dia menjadi bingung (pokok soal harus lugas, jelas, dan tegas – ada kan kaidahnya), tetapi di pilihan jawabannya mahasiswa harus menentukan mana yang benar/tepat! Jadi soalnya harus dimengerti benar (jangan sampai mahasiswa tidak mengerti soalnya) dan pada saat menjawab, maka mahasiswa arus mengerti setiap pilihan jawabannya! Kan, kalau dipihan jawaban mahaisswa harus berpikir dulu untuk menetukan pilihan jawabannya, artinya harus mengerti setiap makna dari pilihan jawaban.

Tetapi, kalau dari sisi “expert adjustment” sebenarnya memang boleh mata kuliah tertentu (asl memang bidangnya) untuk menanyakan hal-hal seperti itu. Asal kalau memang yang diuji kemampuan “negatif gandanya”, boleh=boleh saja! Memang kembali lagi kepada bidang keahliannya, kalau itu memang ada topik yang mengharuskan ntuk menanyakan kemampuan negatif ganda ya gak apa-apa, tetapi kan ga berlaku secara umum pada mata kuliah lainnya! Cuman mungkin (biasanya) kalau di logmat/matdis negtif gndanya biasanya pada lambang atau pada statement. Biasanya karena memang soalnya mengenai statement atau kalimat yang harus diuji kemampuan me-negasikan. Kalau di sistem digital biasanya pada gerbang logika atau rangkaian logika! Kalau yang seperti ini ya sah-sah aja pak, tetapi kan khusus mata kuliah seperti itu kan!

Jadi kembali lagi sebenarnya kepada tujuan tes dan bidang tes-nya sendiri dan tentu saja bukan utuk membingungkan atau mengacaukan makna!

Jadi kalau bidang yang pak Jun maksud, boleh sekali pak! Karena memang ranahnya begitu! Tetapi kan gak semua soalnya harus dibuat negatif ganda kan!

Ada pendapat ektrim lagi lho: Bahwa kalau dalam soal tidak boleh berbentuk kalimat “implikasi”, karena implikasi itu bisa bernilai benar, juga bisa bernilai salah. Dan pada suatu soal mana yang mau dipakai, implikasi yang bernilai salah atau yang bernilai benar! Tetapi menurut saya ini adalah pendapat yang terlalu ekstrim!

Tujuan Dari Soal

Pertanyaan: 

“Bagaimana kalau tujuan dari soal adalah untuk menjaring kemampuan dan ketelitian, dengan memasukkan kalimat negatif dan positif? Karena dengan teliti dan kemampuan menganalisis kalimat dia pasti bisa menjawab”

Jawaban: 

Jadi kalau memang untuk menguji kemampuan dan ketelitian bisa/boleh dan sah selama memang di indikatornya memang untuk mengukur ketelitian. Mata kuliah apa misalnya?

Mungkin sebaiknya kalau memang mau menguji seperti itu, kalimatnya dibuat di pilihan jawabannya jadi bukan di pokok soal (sistem). Artinya, agar mahasiswa bisa dengan jelas memilih jawaban yang tepat di pilihan jawabannya. Karena yang akan dicari adalah kemampuan menentukan secara tepat dan teliti/akurat, ya pada saat memilih jawaban bukan pada saat membaca soal.
Tetapi tidak berarti tidak boleh lho di pokok soalnya menggunakan kalimat negarif, boleh-boleh saja asal sesuai indikator yang berasal dari PB/SPB-nya dan tidak mengacaukan arti! Tetapi kayaknya jarang di PB/SPB diminta untuk mengukur kemampuan “negatif” suatu hal, pada umumnya yang diminta itu kemampuan “positif”-nya. Karena menurut teori measurement pengukuran itu harus dilakukan terhadap objek-nya langsung bukan pada hal lainnya! Inilah keilmiahan suatu ilmu! Artinya kalau mau mengetahui kemampuan/kompetensi mahasiswa pada mata kuliah Sistem Operasi/OS ya yang diukur kemampuannya di Sistem Operasi, bukan kebisaannya di struktur data atau database, walaupun mungkin ada kaitannya! Tetapi tetap-tetap saja sih  kemampuan OS-nya!

Tetapi sudah pernah tahu prinsip dasar pengukuran/measurement?

Sebenarnya apa sih bedanya pengukuran fisik (seperti mengukur panjang meja, berat badan, dll) dengan pengukuran psikologis/non fisik seperti kemampuan pelajaran (baik hasil belajar maupun prestasi belajar), pengukuran kepribadian, dll? Padahal sama-sama mengukur lho, dan sama-sama perlu instrumen.

Coba pada pengukuran fisik, seperti mengukur panjang meja – perlu meteran/mistar, mengukur berat badan – perlu timbangan, suhu – perlu termometer, dll.

Bagaimana dengan mengukur kepribadian – alat/intrumennya ada yaitu tes/perangkat soal untuk kepribadian (di dunia sdh banyak seperti yang terkenal MMPI – FACT, FCIT, dll)- dari situ kepribadian seseorang bisa diinterpretasikan. Bagaimana dengan kemampuan mahasiswa dalam OS, Kalkulus, RPL, dll. Ya dibuatlah soal untuk menguur yang seperti ini. Makanya paket soal ini sangat penting karena ibarat sebagai meteran kalau orang mengukur panjang. Bayangkan kalau meterannya tidak standar atau kacau, bagaimana kita bisa menyimpulkan kalau si mahasiswe tersebut punya kemampuan OS yang baik. Jangan-jangan terbalik nanti, yang tidak tahu apa-apa dianggap bisa sedangkan yang bisa dianggap tidak tahu apa2.

Jadi instrumen pengukuran ini amat sangat penting sekali lho dan tidak boleh dibuat sembarangan.

Namun ada satu prinsip penting yang harus kita pegang, perbedaan utama antara pengukuran fisik dan non fisik (misalkan kepribadian / prestasi belajar) adalah kalau pengukuran fisik, yang diukur langsung pada bendanya/objeknya misalnya mau mengukur panjang meja ya mejanya langsung diukur menggunakan meteran tetapi kalau kepribadian – cara mengukurnya adalah responsnya, jadi bukan kepribadian orangnya yang langsung diukur, karena sifatnya bukan fisikal/tidak kasat mata. Jadi, pengukuran psikologis ini jauh lebih sulit dibanding pengukuran fisik. Kenapa? Salah satunya adalah sangat dipengaruhi keadaan, kalau yang diuji sedang tidak mode pasti hasilnya menyimpang! Oleh karena itu pengukuran psikologis itu banyak yang harus diulang-ulang ntuk mengetahui kestabilannya, tidak mungkin sekali ukur langsung dihasilkan hasil yang akurat!
Namun, tahu gak bahwa baik pengukuran fifik maupun psikologis kedua-duanya mengandung error! Jangan disangka pada pengukuran fisik itu akurat, coba sewaktu kita praktikum fisika di SMA dulu, selalu  kan hasil pengukuran akhir kita ditamah kurang (plus – minus) errornya – Ingat! error mutlak = 0,5 x satuan terkecil pengukuran!  Apalagi pengukuran dalam pelajaran/psikologis!

Problemnya, instrumen/soal yang kita buat belum tentu baku (sebagai alat ukur yang benar) – ini sangat kompleks lho! Jangan-jangan instrumen/ soal-soal OS yang dibuat malah mrngukur kemampuan Struktur Data, soal fisika malah mengukur kemampuan kalkulus! Kalau ini terjadi, bukan error lagi, ini namanya menyimpang!

Pilihan Jawaban

Pertanyaan: “Pilihan jawaban yang berbentuk angka atau waktu harus disusun berdasarkan urutan besar kecilnya nilai angka tersebut atau kronologisnya”? urutan pilihan ganda dari a-e harus tersusun dari “kecil ke besar” ATAU “besar ke kecil” dan tidak boleh random?

Jawaban:

Jadi semua pilihan jawaban (pada dasarnya yang bisa berwujud angka) misalnya bilangan, waktu, kronologis, pokoknya yang bisa diurut/sorting bahkan dalam bentuk kalimat (panjang – pendeknya) harus disusun terurut besar ke kecil atau kecil ke besar (terurut naik atau turun/ascending atau descending) [pokoknya harus disajikan terurut.

Tujuannya adalah agar si penjawab tidak membuang waktu untuk mencari angka yang tepat (karena maksud/tujuan tes itu menjaring kemampuan/bisa menjawab atau tidak) jadi bukan untuk membingungkannya.
Bila tidak diurut, ada kemungkinan saking paniknya si peserta tes maka dia salah mencontreng, padahal sebenarnya dia bisa dan tahu jawabannya. Tetapi karena bingung mencari angkanya maka jadi salah. Jadi kalau diurut kan kemungkinan kecil si penjawab salah contreng padahal dia bisa!

Bila efek mebingungkan ini terjadi maka dalam teori tes ini disebut bias artinya si penjawab sebenarnya bisa/tahu jawabannya tetapi salah contreng. Jadi kebalikan dari si penjawab sebenarnya tidak tahu tetapi karena dia menebak maka jawabannya benar. Kalau hal sepeerti ini yang terjadi ni disebut “guesing/menebak”. Nanti di teori modern dikenal dengan model 3 parameter! Jadi, secara statitsik nanti ada teorinya mana siswa yang benar menjawab (jawabannya benar) karena dia memang bisa/tahu dan mana yang benar menjawab karena menebak atau padahal dia tidak bisa/tidak tahu tetapi benar/bisa karena menebak bukan karena dia tahu!
Tetapi, teori ini harus menggunakan statistika tingkat tinggi karena melibatkan rumus-rumus matematika yang aduhai indahnya! Fungsinga berbentuk eksponensial probabilitas!

Pokok Soal

Pertanyaan:

Pokok soal jangan mengandung pernyataan yang bersifat negatif ganda”?
Jawaban dari Instruktur:
Yang dimaksud negatif ganda itu suatu pokok soal (stem) yang mengandung kata “negatif” lebih dari satu. Yang dimaksud kata “negatif” itu misalnya tidak, jangan, kecuali, bukan, tanpa, dll.

Contoh:

Yang bukan merupakan pemerintah daerah kecuali .   .  .

(disini ada dua kata negatif yaitu bukan dan kecuali)

Yang tidak termasuk ciri-ciri demokrasi Pancasila adalah kecuali .  .  .

(disini ada kata tidak dan kecuali)

Tujuan tidak diperbolehkannya menggunakan negatif ganda sebenarnya agar kalimat itu menjadi lugas, tegas dan tidak membingungkan!

Bayangkan nanti kalau ada tiga kata “negatif”, dengan dua saja sudah bingung!

Begitu pula kalau ada yang bertanya dengan menggunakan satu kata “negatif” boleh tidak?

Kalau hanya menggunakan satu kata “negatif” sebenarnya masih boleh karena masalah kebingungan arti bisa direduksi tetapi harus hati-hati juga! Kalau diindikatornya atau di PB/SPB-nya tercantum sesuatu yang positif, kemudian kita menayakan hal negatifnya, ini secara ilmu pengukuran (measurement) kurang bisa dibenarkan. Karena seseorang bisa menjawab hal “negatif”-nya belum tentu mengetahui hal positifnya.

Jadi memang sebaiknya/kesimpulannya, usahakan jangan menggunakan pertanyaan negatif, kecuali memang pada PB/SPB-nya disyaratkan untuk mempelajari hal yang diluarnya/negasinya.